KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH
https://jurnal.usbr.ac.id/KALA
Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitungen-USKALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH2303-2189Pengaruh Penerapan Metode Peer Teaching Berbantuan Media Power Point Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI Di MAN 1 Lebak
https://jurnal.usbr.ac.id/KALA/article/view/557
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan metode <em>Peer Teaching</em> berbantuan media <em>Power Point</em> terhadap peningkatan hasil belajar sejarah siswa kelas XI di MAN 1 Lebak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain eksperimen semu <em>(Quasi-experimental design)</em>. Melibatkan siswa kelas XI-6 sebagai kelas kontrol dan kelas XI-2 sebagai kelas Eksperimen di MAN 1 Lebak. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa di kelas eksperimen setelah diterapkannya metode <em>Peer Teaching</em>, dengan nilai rata-rata dari 53,03 menjadi 90,20. Selain itu, hasil perbandingan menunjukkan bahwa metode <em>Peer Teaching</em> lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran konvensional, dengan rata-rata nilai 90,20 berbanding 76,70. Hal ini menegaskan bahwa metode <em>Peer Teaching</em> berbantuan media <em>Power Point</em> efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sekaligus memperkuat pemahaman konsep sejarah.</p>Juliana Agusty NurqiraniRidwan SudirmanUsmaedi UsmaediMuhammad Faizal Ahsan
##submission.copyrightStatement##
2026-01-012026-01-0114111210.69744/kamaca.v14i1.557Pemanfaatan Wayang Punakawan sebagai Media Pembelajaran Sejarah Lokal pada Siswa Kelas 6 Sekolah Dasar Negeri Adan-Adan 1
https://jurnal.usbr.ac.id/KALA/article/view/729
<p>Sejarah lokal adalah aspek yang krusial dari identitas suatu masyarakat karena mencatat peristiwa, tokoh, budaya, dan nilai-nilai kearifan di tingkat daerah. Pembelajaran sejarah lokal, khususnya bagi anak-anak, berperan dalam menumbuhkan rasa bangga, kepedulian, dan keterikatan dengan daerah asalnya. Namun, selama proses pembelajaran sejarah lokal, siswa sering mengalami kebosanan. Situasi ini mendorong peneliti untuk menciptakan terobosan yang layak berdasarkan perilaku siswa sekolah dasar, yakni dengan memanfaatkan media pembelajaran berupa Wayang Punakawan dalam kegiatan pembelajaran sejarah lokal. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi dampak penggunaan media Wayang Punakawan terhadap pengetahuan sejarah lokal siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, pada kelas enam, Sekolah Dasar Negeri Adan-Adan 1, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Subjek penelitian terdiri dari 16 siswa. Data dikumpulkan melalui lembar observasi untuk menilai kompetensi guru untuk mengatur dan melaksanakan pembelajaran serta mengadakan tes tertulis untuk menilai capaian belajar siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Kompetensi guru mempersiapkan pembelajaran sejarah lokal dalam mengaplikasikan media Wayang Punakawan memperoleh nilai rata-rata 3,54 (sangat baik); (2) Kompetensi guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran sejarah lokal dengan media Wayang Punakawan mendapat nilai rata-rata 3,71 (sangat baik), dan; (3) Capaian belajar siswa kelas enam Sekolah Dasar Negeri Adan-Adan 1 menunjukkan perbaikan. Hasil ini membuktikan bahwa media Wayang Punakawan efektif dalam menciptakan suasana belajar yang konkret, menarik, dan menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa.</p>Ardi Tri YuwonoAndi SebastianGijsbert ter BraakeM. Bahjatul Afiiful MasolihEdi Sujiyanto
##submission.copyrightStatement##
2026-01-012026-01-01141132910.69744/kamaca.v14i1.729IMPLEMENTASI MODEL PBL DAN PJBL DALAM PROSES PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA S YP UTAMA MEDAN
https://jurnal.usbr.ac.id/KALA/article/view/728
<p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) dalam proses pembelajaran Sejarah di SMA S YP UTAMA. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan perubahan paradigma pembelajaran sejarah dari tradisional (ceramah dan hafalan) menjadi pendekatan yang inovatif dan berpusat pada siswa (student-centered). Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terstruktur dengan guru mata pelajaran Sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kedua model ini dilakukan secara terencana. Model PBL diimplementasikan dengan memanfaatkan media audio visual dan menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa dalam memecahkan masalah. Sementara itu, Model PjBL diimplementasikan melalui penugasan proyek yang melatih keterampilan abad ke-21, seperti pembuatan video sejarah. Secara umum, implementasi PBL dan PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan minat, pemahaman, dan hasil belajar siswa meskipun terdapat tantangan terkait keterbatasan waktu dan sarana.</p>Engelni Mei SitanggangRirin Ivanka ManurungSelvia Andriani Putri DamanikSherly Natasya SitumeangNajuah Najuah
##submission.copyrightStatement##
2026-01-012026-01-01141303610.69744/kamaca.v14i1.728Tradisi Seren Taun Di Kesepuhan Cibadak, Lebak Banten Sebagai Wujud Syukur Dan Pelestarian Budaya
https://jurnal.usbr.ac.id/KALA/article/view/812
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Seren Taun di masyarakat Kasepuhan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten sebagai wujud rasa syukur masyarakat sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Tradisi Seren Taun merupakan bagian dari sistem kehidupan masyarakat agraris yang memiliki makna religius, sosial, budaya, dan ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi untuk memahami kehidupan masyarakat dari sudut pandang mereka sendiri. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh adat serta masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kasepuhan Cibadak masih mempertahankan sistem kehidupan agraris yang kuat, di mana pertanian, khususnya padi, menjadi pusat kehidupan sekaligus dasar pelaksanaan tradisi Seren Taun. Tradisi ini memiliki peran penting dalam memperkuat solidaritas sosial, menjaga identitas budaya, serta mempertahankan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Upaya pelestarian dilakukan melalui peran tokoh adat, partisipasi aktif masyarakat, serta adaptasi terhadap perkembangan zaman. Namun demikian, tradisi Seren Taun juga menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan pola pikir generasi muda, masuknya budaya luar, serta alih fungsi lahan pertanian. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dari berbagai pihak untuk menjaga keberlangsungan tradisi agar tetap lestari dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern.</p>Ernawati ErnawatiMuhamad Bahrul UlumSiti HerniAyu Dian MaulidaAldo Dian Aldiyansah
##submission.copyrightStatement##
2026-04-072026-04-07141374510.69744/kamaca.v14i1.812Menelusuri Jejak Pengetahuan Lokal Picung: Tradisi Kotok Bongkok sebagai Warisan Budaya Takbenda di Kabupaten Lebak
https://jurnal.usbr.ac.id/KALA/article/view/818
<p>This study aims to examine the traditional processing of picung fruit (<em>Pangium edule</em>) and a local food product known as <em>kotok bongkok</em> as part of the cultural heritage of the people of Lebak Regency, Banten. Picung is a distinctive food ingredient of the Indonesian archipelago that possesses a unique characteristic: in its raw state it contains toxic compounds in the form of hydrogen cyanide (HCN), yet through traditional processing it can be transformed into a safe culinary seasoning with high gastronomic value. This research employs a qualitative approach using an ethnographic method, involving field observations, in-depth interviews, and documentation of picung processing practices within the community. The findings indicate that the processing of picung involves several important stages, including fruit selection, boiling, peeling, soaking in flowing river water, natural fermentation, and final maturation before being used as a cooking ingredient. These processes not only function to eliminate toxic substances but also shape the distinctive color, aroma, and flavor that characterize local culinary traditions. Furthermore, picung also carries symbolic meaning within Sundanese culture, reflecting values of patience, life processes, and the harmonious relationship between humans and nature. Therefore, the tradition of processing picung and producing <em>kotok bongkok</em> can be understood as a form of local knowledge that is important to document. This study emphasizes the urgency of inventorying this tradition as part of the intangible cultural heritage of Lebak Regency in order to preserve the continuity of local knowledge and strengthen the cultural identity of the community in the midst of ongoing social change.</p>Dc AryadiBadrul MunirSamsu BahriUsmaedi Usmaedi
##submission.copyrightStatement##
2026-04-182026-04-18141465810.69744/kamaca.v14i1.818